SELAYANG PANDANG KABUPATEN BIMA

Kondisi Geografis

Kabupaten Bima terletak di ujung timur propinsi Nusa Tenggara Barat, bersebelahan dengan Kota Bima (pemekaran dari Kabupaten Bima). Luas wilayahnya mencapai 4.389,400 km². Terletak diantara : 117⁰.40̇̇̇̇’ – 19⁰.24′ BT dan 700.300 LS, dengan batas-batas sebagai berikut :

  • Sebelah Utara : Laut Flores
  • Sebelah Timur : Selat Sape
  • Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
  • Sebelah Barat : Kabupaten Dompu

Kondisi Topografis

Secara topografis, wilayah Kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi bertekstur pegunungan, sementara sisanya (30%) adalah dataran rendah. Sekitar 14% dari proporsi dataran rendah tersebut merupakan areal persawahan dan lebih dari separuh merupakan lahan kering. Wilayah Kabupaten Bima dikelilingi oleh pegunungan yang terdiri dari Gunung Tambora di Kecamatan Tambora, Gunung SAngiang di Kecamatan Wera, Gunung Maria di Kecamatan Wawo dan Gunung Soromandi di Kecamatan Donggo.

Iklim

Kabupaten Bima adalah daerah berkategori kering sepanjang tahun dengan curah hujan tahunan rata-rata 58.75 mm. Musim kering terutama terjadi pada bulan Juli, Agustus dan September.

Sejarah Singkat Kabupaten Bima

Kabupaten Bima berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan pemerintahan berdasarkan syariat islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang diperingati setiap tahun. Kerajaan Bima dahulu terpecah dalam kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh Ncuhi.

 Ada 5 Ncuhi yang menguasai lima wilayah yaitu :

  1. Ncuhi Dara, memegang kekuasaan wilayah Bima Tengah
  2. Ncuhi Parewa, memegang kekuasaan wilayah Bima Selatan
  3. Ncuhi Bolo, memegang kekuasaan wilayah Bima Barat
  4. Ncuhi Banggapupa, memegang kekuasaan wilayah Bima Utara
  5. Ncuhi Dorowuni, memegang kekuasaan wilayah Bima Timur

Penduduk yang mendiami daerah Kabupaten Bima, menyebut dirinya Dou Mbojo yang mendiami kawasan pesisir pantai. Disamping penduduk asli, juga terdapat penduduk pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Untuk mengunjungi Kabupaten Bima sangatlah mudah baik melalui laut, udara maupun darat, karena telah didukung dengan Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin, Pelabuhan Laut Bima, Pelabuhan Penyeberangan Sape, dan sarana transportasi darat yang bisa anda dapatkan di terminal Dara.

 GUNUNG TAMBORA

Gunung Tambora adalah Gunung bersejarah yang meletus pada 1815 silam, meluluhlantakkan 3 kerajaan yaitu Kerajaan Sanggar, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Dari hasil letusan, terbentuk kawah dengan lebar ± 9 km dan kedalaman ± 1.110 m.

Gunung Tambora terletak di Desa Oi Bura dan disebelah barat dan Desa Oi Panihi, Desa kawinda nae di sisi utara.

Gunung Tambora dapat dijangkau dengan menggunakan pesawat udara dari Mataram, Lombok sekitar 1 jam menuju Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima. Dari Bima, dapat ditempuh melalu perjalanan darat ± 125 km dengan jarak tempuh ± 4 jam melewati Kabupaten Dompu. Kondisi jalan dari Bima – Kempo (Kab. Dompu) cukup bagus sampai ke kaki Gunung Tambora. Terdapat Guest House di areal perkebunan kopi yang bisa disewa untuk penginapan.

Gunung Tambora memiliki panorama alam yang sangat indah dengan berbagai gunung yang tersebar dan cocok sebagai sebagai wisata alam dan objek penelitian ilmiah dengan adanya habitat spesifikasi flora dan fauna yang berkesan unik, gunung tambora yang merupakan bekas Gunung berapi (Volcano). Dari uncak gunung tambora kita dapat menikmati keindahan kawasan hutan kayu calabai dan air terjun Sori Panihi (Kawinda) dan juga Panorama laut semenanjung (Peninsula) pantai sanggar

Bila anda berada di puncaknya, sejauh mata memandang, anda akan berdecak kagum. Bayangkan saja saat letusan itu terjadi. Pulau Jawa dan Kalimantan diselimuti debu hitam. meski dalam jarak sekitar 900 km dari tempat letusan, berjatuhan debu setebal 1 cm. bongkahan letusannya melayang hingga mencapai ketinggian 44 km. Iklim dunia waktu itu berubah drastis. Menyebabkan tahun tanpa musim panas, suhu minimum setiap hari secara tidak wajar menjadi lebih rendah di belahan bumi sebelah utara dari akhir musim semi hingga awal musim gugur.

 PULAU SATONDA

Merupakan pulau tua seluas 4,8 km2, di dalamnya terdapat sebuah danau dengan luas 0,8 km2. Danau ini memiliki keunikan karena merupakan danau air asin dengan tingkat keasinan yang cukup tinggi. Dasar danau sangat unik karena berkarang yang sangat menakjubkan. Air asin ini diperkirakan terjadi di malam hari laut mengalir melalui bawah tanah bersamaan dengan meletusnya Gunung Tambora tahun 1815. Sepanjang perjalanan menuju danau, terdapat pohon Kalibuda yang getahnya beracun dan bisa membutakan mata. Pohon ini dipercaya sebagai pohon keramat, sehingga para pengunjung bisa membuat “batu cita-cita”, yaitu batu yang diikat tali digantungkan pada rantingnya. Ditempat ini selain digunakan sebagai tempat wisata, juga bisa dipakai untuk melakukan penelitian tentang terbentuknya sedimen, mikrobiologi, biokarbonat, jenis lumut dan karang, serta perubahan zat kimia.

Pulau satonda merupakan wisata bahari yang berada di perairan wilayah kecamatan tambora, tepatnya di hadapan desa Labuhan Kananga , objek ini memiliki dua panorama yang memikat hati, yaitu panorama alam bekas volcano dan panorama alam bawah laut yang fantastik, di objek wisata ini kita bisa melihat danau bekas volcano yang di tumbuhi pohon – pohon yang rindang.

Kepekatan Danau Satonda ini juga sangat luar biasa, daya tembus matahari hanya mencapai kedalaman 10 meter saja. Yang lebih unik lagi air yang ada di danau pulau Satonda rasanya pahit yang bisa meyembuhkaan penyakit kulit dan rematik. Dilokasi objek wisata ini dapat dicapai dengan menggunakan transportasi darat dan trnansportasi laut 7 jam dari kota Bima. Penyebrangan ke Pulau satonda biasa menggunakan perahu / boat masyarakat pesisir pantai dari desa Labuan Kenanga Kecamatan Tambora yang merupakan desa wisata di wilayah ini.

 Injakkan kakimu di pesisir pantai, pandangilah bibir pantainya yang mungil, maka senyum biota laut akan menyambutmu bersama karang – karang tua yang kokoh dan ikan – ikan hias yang indah, penyu hijau yang lucu, tak kan mampu menahan keinginan untuk bersnokling atau atau anda hanya sekedar menikmati hawa danau yang sejuk?

Untuk para pecinta alam dari bukit disana menyuguhkan panorama alam yang menyuguhkan panorama dengan matahari yang tenggelam.

 OBYEK WISATA PANTAI KALAKI

Pantai Kalaki yang terletak di Teluk Bima, merupakan kawasan yang ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar Kabupaten dan Kota Bima. Pantainya yang berpasir putih, perairan lautnya yang tidak berombak besar ditambah dengan indahnya panorama alam pengunungan disekelilingnya, turut mendukung keberadaan pantai Kalaki sebagai sebuah pilihan berwisata. Obyek ini sangat strategis, hanya berjarak 2 km dari Bandara Sultan Muhammad Salahuddin dan 11 km dari Kota Bima. Pantai kalaki Dapat dijangkau dengan bis umum atau kendaraan pribadi. Objek wisata pantai kalaki relevan sekali sebagai lokasi untuk kegiatan kepariwisataan. Fasilitas wisata yang tersedian cukup memadai sepeda air, Jetski dan juga sebagai lokasi kegiatan festival di hari besar daerah dan hari besar Nasional dengan menampilkan pertunjukan dan hiburan khusus.

Belum ada pihak yang mengetahui, kapan desa tradisional Sambori terbentuk. Namun menurut beberapa sumber, bahwa penduduk asli Bima berasal dari wilayah Sambori dan Donggo yang pada zaman dulu dikenal dengan sebutan Dou Donggo Ele dan Dou Donggo Di (Dou berarti Orang. Donggo nama salah satu wilayah kecamatan yang terletak di sebelah barat teluk Bima, Ele berarti timur, sedangkan di berarti Barat. Desa Sambori adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Lambitu. Di sebuah gugusan pegunungan yang terletak di sebelah tenggara kota Bima. Desa Sambori dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan jarak tempuh sekitar 50 menit perjalanan. Masyarakat di desa ini masih mempertahankan tradisi lama dan didukung pula oleh kondisi alamnya yang masih asri. Pada abad ke 16 hingga abad ke-17 desa Sambori dan sekitarnya merupakan pusat dakwah Islam. Sehingga di tempat ini juga terdapat sisa-sisa sebuah masjid tertua yang pernah didirikan oleh Sultan Bima Pertama, Sultan Abdul Kahir bersama para mubaliq dari tanah Gowa, Makassar, Bone dan Tallo.. Pada awalnya Desa Sambori masih menggunakan rumah tradisional Uma Leme yang merupakan rumah asli penduduknya, tetapi karena adanya himbauan dari Pemerintah pada era tahun 80-an, akhirnya semua penduduk mengganti rumah mereka menjadi rumah panggung. Saat ini hanya terdapat 10 Sepuluh (unit) yang masih difungsikan oleh masyarakat desa sambori.

PANTAI WANE

Pantai Wane merupakan objek wisata bahari yang berada di wilayah perairan laut bagian selatan, yang berlokasi di Desa Tolotangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Pantai wane ini berhadapan dengan samudera Indonesia dan pantai ini terletak satu kawasan dengan Pantai Rontu. Terletak di sekitar 45 km dari Ibukota Kabupaten Bima dan ± 30 menit dari bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima..

Di pantai ini memiliki hamparan pasir putih yang fantastik dan panorama alam pegunungan yang indah dan yang lebih menarik lagi adanya gelombang laut yang besar dan sangat digemari oleh wisatawan. Cocok untuk kegiatan surfing, jetski, volley pantai dan aneka kegiatan wisata olahraga air.

Dilokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda 2 ataupun roda empat . kunjungilah pantai ini seakan anda melupakan segalanya kalau berada di pantai ini.

ISTANA KESULTANAN BIMA

Istana kesultanan Bima terletak di jantung kota Bima yang saat ini beralih fungsi sebagai museum dengan nama museum ‘ASI MBOJO’. Istana ini dibangun pada tahun 1927 oleh Sultan Muhammad Salahduddin-Sulan Bima ke 14 yang memerintah tahun 1915-1951. Bangunan ini merupakan perpaduan konstruksi Eropa dan tradisional Bima, dirancang oleh arsitek berdarah Ambon Mr. Obzichter Rehatta dan merupakan rekonstruksi dari bangunan istana kesultanan dari Raja/ Sultan sebelumnya.

Istana kesultanan bima dibangun diatas tanah yang merupakan lokasi Asi Tua (Istana Sultan Ibrahim) pada tahun 1927 oleh Sultan Muhammad Salahuddin, sultan Bima ke 14 yang memrintah pada tahun 1881- 1915.

Didalam istana terdapat banyak benda cagar budaya bernilai tinggi yang dipakai oleh raja dan sultan terdahulu seperti topi mahkota yang terbuat dari emas, keris jabatan raja/sultan, keris pembesar kerajaan, peralatan kuda, perlengkapan upacara, tempat tidur sultan dan keluarga serta berbagai benda berharga lainnya.

Dibagian depan istana sultan terdapat tiang bendera berbentuk perahu dan pintu gerbang lare – lare. Dibagian timur terdapat istana baru atau Asi Bou, bangunan berciri khas yang terbuat dari kayu jati Desa Tololai. Oleh karenanya masyarakat Bima menyebutnya dengan Jati Tololai.

Istana Kesultanan Bima merupakan pusat kegiatan budaya dan pendidikan di tanah Bima, untuk itu, di halaman dan teras istana, sering diadakan upacara adat dan festival kesenian. Disekitar bangunan istana terdapat bangunan-bangunan yang merupakan rangkaian dari istana yaitu :

  • Rumah kediaman sultan dan keluarganya yang saat ini berfungsi sebagai pendopo Bupati Bima
  • Lapangan Sera Suba yang dulunya dipakai sebagai tempat berlatihnya prajurit sultan
  • Mesjid Sultan Muhammad Salahuddin yang dihalamannya terdapat makam sultan / raja bima dan keluarganya.
  • Di sekitar istana kesultanan terdapat fasilitas hotel, perbelanjaan, restaurant dan lain – lain.

PULAU ULAR

Seacara administrasi pulau ini berlokasi di lingkar utara kawasan laut wilayah kecematan wera, kira – kira 3 jam dari ibukota Kabupaten Bima. Pulau ini menawarkan para pengunjungnya sebuah wisata menantang, menyeberang laut dengan menggunakan perahu masyarakat pesisir dalam tempo 5 menit menuju pulau ular tersebut, melihat keunikan habitat ular yang dinilai banyak keberadaanya, dengan cirri khas warna hitam silver terkesan bersahabat dan memikat wisatwan yang berkunjung. Keberadaan mereka sangat mendukung pulau tersebut dan pulau ini merupakan kawasan konservasi fauna yang dijaga dan dilestarikan keberadaanya, berkunjung dipulau ular meerupakan perjalanan yang menyenangkan dan pengalaman yang tidak dapat terlupakan

DESA MARIA (DESA BUDAYA)

Desa Maria terletak di sebelah timur, sekitar 15 km dari ibukota Kabupaten Bima. Desa Maria sangat unik, karena masyarakatnya masih menjaga kelestarian budayanya sampai saat ini, seperti atraksi Ntumbu (adu kepala) yang kerap dilakukan pada saat acara-acara adat, tradisi Ampa Fare (lempar padi) yang merupakan tradisi menyimpan cadangan makanan di rumah tradisional yaitu Uma Lengge. Uma Lengge terdiri dari dua macam yaitu Uma Lengge sebagai tempat tinggal dan Jompa sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Saat ini semua Uma Lengge berjumlah 100, berfungsi sebagai jompa.

Jompa adalah tempat untuk menyimpan beras atau gabah dan bahan makanan lainya.jompa dijaga secra bergilir siangdan malam

Inilah kearifan lokal . jompa sengaja ditematkan terpisah dari tempat tinggla pemiliknya dengan maksud apabila terjadi kebakaran, maka seluruh persediaan makanan tidak ikut terbakar. Bahkan untuk menjaga keamananya, maka jompa dijaga secara bergilir oleh pemiliknya.

Bermalamlah di Maria, maka anda akan merasakan sensasi menginap di pesanggarahan raja / Sultan Bima waktu dulu ( pasanggarahan oi wobo) yang dilengkapi dengan kolam pemandian dan malam penuh atraksi , karena malam harinya anda bisa menikmati atraksi ntumbu tuta (adu kepala) yang merupakan permainan rakyat khas dari Maria.

PACUAN KUDA TRADISIONAL

Masyarakat Bima sangat menyukai olah raga tradisional pacuan kuda. Setiap eventnya, puluhan ribu pengunjung berbondong-bondong menonton dan menjagokan kuda pilihannya. Pacuan kuda tradisional Bima dilaksanakan di area pacuan kuda Panda yang terletak di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, sekitar 6 km dari Bandara Sultan Salahuddin Bima dan 9 km dari Ibukota Kabupaten Bima. Kuda Bima dikenal dengan kuda anjing atau jara poro. Disebut kuda anjing karena kudanya kecil-kecil (dengan tinggi ± 1 meter). Jokinya pun sangat unik karena menggunakan anak-anak sebagai penunggang kudanya dengan usia 6-8 tahun tanpa pelana. Kadang-kadang diundang juga kuda-kuda dari Sumbawa, Lombok, Sumba, untuk ikut berlomba. Event pacuan kuda Bima dilaksanakan 4 kali setahun yaitu setiap bulan April, Juli, Oktober dan Desember. Pacuan Kuda bisa dijangkau dengan bisa umum dan kendaraan pribadi, dengan karcis masuk 3000 dan karcis tribun 5000, anda sudah bisa menonton riuhnya pelaksanaan lomba pacuan kuda tradisional yang hanya ada di Bima.

HANTA UA PUA

Menyaksikan proses hanta ua Pua sama halnya anda tengah menyaksikan kesaksian diri akan kecintaan terhdap islam. Sebuah perhelatan tua bersejarah dan penuh nuansa. Mengajarkan tentang makna” jejak – jejak spiritual” pencarian jati diri yang islami. Proses pengejahwantahan dari sebuah nilai spritiual yang hakiki”memuliakan kelahiran nabi Muhammad S.A.W”. melewati titian , sebuah proses pendewasaan Maja Labo Dahu. Inilah prosesi upacara adat Hanta Ua Pua; penuh makna , penghambaaan pada sang khalik, aza wa jalla.”ketika islam di tanah Bima” dan sekaligus menghormati para pembawa agama islam duo Datuk yaitu Datuk dib anta dan datuk ditiro.

Seperti yang tersirat dalam catatan kuno kerjaaaan bima, islam bersemi ditanah bima pada hari kamis tanggal 5 juli 1640 M, atau bertepatan dengan tanggal 15 Rabiul awal 1050 H. hingga sekarang pelaksanaan Ua PUa selalu berdasarkianj kalender Hijriyah.

Diawali proses berjikir mauled selama 2-3 hari, ditindai dengan membuat bunga telur sebanyak 99 tangkai sesuai jumlah ASmaul Husnah dan membuat kepaandan dan rumah mahligai yang nantinya akan diusung menuju halaman istanah. Benar –benar kemeriahan yang dipersdembahkan untuk rakyat selama satu minggu penuh.malamnya, diadakan doa syukuran yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, tokokh agama, sultan dan keluarganya serta penghulu melayu.

Salatullah salamunllah, ala toha rasulillha, salatullah , salamunllah, ala yasin habibillah. Ayat – ayat kecintaan terhadap alllah dan rasulnya berkumandang. Penuh khidmat, atraktifan semarak.

Pengunjung ketika menyaksikan upacara adat Hanta Ua Pua yang dihelat oleh masyarakat yang mendiami daerah yang dikenal dengan nama Dana mbojo. Selam prosesi upcara adat yang sarat dengan symbol – symbol dan nilai agama islam ini,dimeriahkan pula dengan berbagai kegiatan dan perlombaan

Upacra hanta Ua Pua imulai pada pagi hari, sekitar pukul 08.00 Wita. Upacara ini dimulai dari kampong Melayu dan berakhir di Depan istanah kerajaan Bima. Pada sisi kiri dan kanan jalan yang menjadi rute upacra, biasanya penuh sesak oleh mayarakat yang menyaksikan upacara adat Hanta Ua Pua. Mmereka twerpesona melihat anekA hiasan dan pernak pernik perlengkapan upacra yang menimbulkan keagungan agama islam, kemuliaaaan adat melayu dan kebesaran kerajaan bima

DESA BAJO PULO

Desa bajo pulo adalah sebuah desa nelayan , karena mayoritas masyarakatnya hidup dengan mencari ikan di laut, berada di sebuah pulau kecil dalam wilayah kecamatan sape atau ± 15 menit dari pelabuhan sape – komodo ( pelaabuhan ASDP sape).

Berbagai aktifitas masyarakat dilihat dalam pulau ini disamping sebagai mata pencaharian sebagai nelayan juga mencari nafkah, pemeliharaan burung walet dalam gua dan pembudidayaan rumput laut. Di sisi utara dan timur dari pesisir pasir putih dengan air laut yang sangat jernih. Dan masyarakat disana berkomunikasi dalam 3 bahasa yaitu : Bahasa Indonesia, bahasa bima, bahasa bajo.

Suku asli dari bajo hampir mirip dg bahasa bugis, dari daerah bima yang masuk ke bajo pulo.di pulau ini anda bisa menikmati pemandangan yang indah,sejuk dan asri. Hati akan tentram dan damai selimuti angin sejuk dan sepoi – sepoi yang tidak akan anda lupakan. Perbedaan bahasa yang menetramkan hati bagi pendengarnya. Kunjungilah pulau ini.

PULAU KELAPA

Pulau Kelapa adalah sebuah pulau kecil dengan luas ± 3 ribuan hektar, dikelilingi pasir putih dan pasir coklat. Lokasi pulau ini berada dalam wilayah Desa Lambu Kecamatan Lambu Kabupaten Bima Propinsi NTB dan berhadapan langsung dengan Pulau Komodo NTT. Untuk menuju kepulau ini dapat menggunakan Speed Boat dari pelabuhan Sape. Pulau ini terdapat keindahan tersendiri bagi pengunjungnya dengan riahnya ombak kegembiraan dan kesenangan muncul seperti suara merdu ombak yang nan sejuk, hati damai dan kesedihan hilang seketika. Anda haus hamparan kelapa siap menemani dan membasahi hati anda dengan ion yang terkandungnya.

(Sumber: Disbudpar Kabupaten Bima 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s